Sebuah Lagu = Pembantaian???

Tulisan ini sebenernya saya dapet dari sini, cuma mau sharing aja, buat angkatan 80-90an yang belum tau sejarahnya..biar tahu aja, dan hanya sekedar tau aja yah…


Ada yang tahu lagu Genjer-Genjer? Di tahun 1965, lagu ini begitu ‘populer’.
Tapi bukan karena menduduki tangga lagu teratas dan dinyanyikan banyak
orang, melainkan sebaliknya, justru karena diharamkan untuk dinyanyikan
oleh penguasa Orde Baru, dengan alasan memuat ajaran komunis.
ini
adalah lirik lagu Genjer Genjer Ciptaan M. Arif dan dipopulerkan oleh
Bing Slamet dan beberapa penyanyi terkenal lainnya di jaman 60an.

Gendjer-gendjer nong kedo’an pating keleler
Gendjer-gendjer nong kedo’an pating keleler
Emake thole teko-teko mbubuti gendjer
Emake thole teko-teko mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Gendjer-gendjer saiki wis digowo mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk digowo neng pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digowo neng pasar
Didjejer-djejer diuntingi podo didasar
Didjejer-djejer diuntingi podo didasar
Emake djebeng podo tuku gowo welasar
Gendjer-gendjer saiki wis arep diolah

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Setengah mateng dientas digawe iwak
Setengah mateng dientas digawe iwak
Sega sa piring sambel penjel ndok ngamben
Gendjer-gendjer dipangan musuhe sega

artinya :

Genjer-genjer tumbuh liar di selokan
Ibu datang mencabut genjer
Dapat sekarung lebih tanpa ragu
Genjer-genjer sekarang bisa dibawa pulang

Genjer-genjer pagi2 dibawa ke pasar
Dijajar dan dibeberkan di lantai
Si Ibu beli genjer ditaruh di tas
Genjer-genjer sekarang akan diolah

Genjer-genjer dimasukkan ke panci air panas
Setengah matang ditiriskan untuk lauk
Nasi sepiring sambal di tempat tidur
Genjer-genjer dimakan dengan nasi

download lagunya di sini…

Sebelum
pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi
termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang
dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di
Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang
surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan
makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer
(limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap
sebagai tanaman pengganggu.

Situasi sosial semacam itulah yang
menjadi inspirasi bagi Muhammad Arief, seorang seniman Banyuwangi kala
itu untuk menciptakan lagu genjer-genjer. Digambar oleh M. Arif bahwa
akibat kolonialisasi, masyarakat Banyuwangi hidup dalam kondisi
kemiskinan yang luar biasa sehingga harus makan daun genjer. Kisah itu
tampak dalam sebait lagu genjer-genjer di atas.

Seiring dengan
perkembangan waktu dan Indonesia mencapai kemerdekaan, Muhammad Arief
sebagai pencipta lagu genjer-genjer bergabung dengan Lembaga Kebudayaan
Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis dengan Partai Komunis
Indonesia
. Maka lagu ini pun segera menjadi lagu populer pada masa itu,
bahkan dalam pernyataannya kepada penulis, Haji Andang CY seniman
sekaligus teman akrab M. Arief di Lekra serta Hasnan Singodimayan,
sesepuh seniman Banyuwangi menyebutkan bahwa lagu genjer-genjer menjadi
lagu populer di era tahun 1960-an, di mana Bing Slamet dan Lilis
Suryani penyanyi beken waktu itu juga gemar menyanyikannya dan sempat
masuk piringan hitam.

Kedekatan lagu genjer-genjer dengan
tokoh-tokoh Lekra dan komunis memang tak dapat dipungkiri. Bahkan dalam
sebuah perjalanan menuju Denpasar, Bali pada tahun 1962, Njoto seorang
seniman Lekra dan juga tokoh PKI sangat kesengsem dengan lagu
genjer-genjer. Waktu itu Njoto memang singgah di Banyuwangi dan oleh
seniman Lekra diberikan suguhan lagu genjer-genjer. Tatkala
mendengarkan lagu genjer-genjer itu, naluri musikalitas Njoto segera
berbicara. Ia segera memprediksikan bahwa lagu genjer-genjer akan
segera meluas dan menjadi lagu nasional. Ucapan Njoto segera menjadi
kenyataan, tatkala lagu genjer-genjer menjadi lagu hits yang berulang
kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI (Lihat Jurnal Srinthil
Vol. 3 tahun 2003).

*Fobia Genjer-genjer*

Entah apa yang
salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan? Selepas
PKI dan orang-orang PKI, berikut anak cucunya dihancurkan oleh Orde Baru, tak terkecuali pula lagu genjer-genjer yang sebenarnya adalah
lagu yang menggambarkan potret masyarakat pada zaman pendudukan Jepang.
Mungkin stereotype lagu genjer-genjer menjadi lagu komunis dan patut
dihancurkan muncul atas beberapa faktor. Pertama, sejak awal lagu ini
berkembang dan dikreasi oleh kalangan komunis dan dikembangkan oleh
kalangan komunis pula. Walaupun pada perkembangannya pada era tahun
1960-an lagu ini tidak hanya digemari oleh kalangan komunis, tetapi
juga masyarakat secara luas. Namun Orde Baru menerapkan politik bumi
hangus, maka seluruh produk apa pun yang dilahirkan oleh orang-orang
komunis haram hukumnya dan patut dihabisi. Kedua, ketika peristiwa G 30
S tahun 1965 terjadi, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia)
mempelesetkan genjer-genjer menjadi jenderal-jenderal. Dalam catatan
pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M. Arief
menuliskan bahwa lagu "Genjer-genjer" telah dipelesetkan.


Jendral Jendral nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli

Jendral Jendral esuk-esuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Akibat
penulisan lagu "Genjer-genjer" menjadi jenderal-jenderal, maka kian
kuatlah alasan Orde Baru untuk membumihanguskan lagu ini. Pada
perkembangannya, siapa pun yang tetap menyanyikan lagu ini akan
ditangkap oleh aparat keamanan, tentu dengan tuduhan komunis. Karena
larangan menyanyikan lagu genjer-genjer, maka beberapa seniman gandrung
di Banyuwangi juga dilarang untuk menyanyikan lagu genjer-genjer, dan
beberapa lagu dan gendhing yang memompa kesadaran politik massa rakyat.

Para
seniman gaek pada masa itu seperti Hasnan Singodimayan, dan Haji Andang
CY juga merasa heran dengan munculnya lirik lagu genjer-genjer yang
sedemikian mendeskreditkan petinggi-petinggi militer waktu itu. Namun
apalah kuasa orang-orang lemah waktu itu. Sudah jatuh tertimpa tangga
pula, mungkin itulah ungkapan yang patut untuk menggambarkan kondisi
seniman-seniman rakyat yang kebanyakan berafiliasi dengan Lekra.
Jangankan mengoreksi lagu genjer-genjer, menyelamatkan diri mereka saja
susah.

Layakkah lagu yang jelas2 adalah lagu daerah…sampai sekarang masih haram untuk diperdengarkan…karena dicap sebagai lagu PKI ?

2 Responses to “Sebuah Lagu = Pembantaian???”

  1. AdulBandul Says:

    Hi there!
    My first post at this great blog!
    I wanna show u my dayly updated blog: Amateur Topless Teen
    Have a nice day!
    BB!

    P.S. if you don’t want to see this message please write me to no.ads08@gmail.com with subject “NO ADS” and URL of your forum
    Thank you for cooperation!

  2. Casino 4910e89706 Says:

    Casino 4910e89706…

    Casino 4910e89706…

Leave a Reply